Parma Calcio 1913 akhirnya berhasil meraih salvezza di pekan ke-37 Liga Italia Serie-A musim 2018/2019, dua pekan sebelum kompetisi musiman selesai. Salvezza di musim 2018-2019 adalah pencapaian lanjutan yang direngkuh oleh klub yang berjuluk gialloblu setelah mereka berhasil meraih promosi ke Serie-C dan Serie-B dalam dua musim secara berturut-turut. Sempat tampil apik di putaran pertama dengan mengantongi kemenangan atas tim penghuni kasta tertinggi seperti Torino FC, Genoa CFC, dan Intermilan FC; klub besutan pelatih Roberto D’Aversa mengalami inkonsistensi di paruh putaran kedua karena cidera pemain dan kondisi fisik pemain-pemain inti mereka. Penurunan performa tim dengan segala kompeksifitasnya tersebut telah menjadi sebuah pembelajaran yang patut dihargai oleh tim anak bawang di kancah liga negara pizza tersebut. Untuk musim selanjutnya, Il Ducali (julukan lain dari klub ini) berupaya untuk memperbaiki performa, baik dalam segi kualitas teamwork maupun kuantitas pemain yang lebih memiliki kedalaman dalam segi skill dan teknik.
Pelatihan pra-musim (retret) 2019/2020 telah dimulai sejak hari Senin, tanggal 8 Juli 2019 di Prato allo Stelvio, sebuah kawasan yang tenang di perbatasan Italia-Austria. Kendatipun mendapatkan tantangan kondisi alam Prato allo Stelvio yang akhir-akhir ini kurang bersahabat, Parma Calcio tetap menerjunkan para pemain dan staf kepelatihan ke sana sesuai jadwal yang ditentukan. Dari beberapa pemain yang baru, terlihat ada nama Vincent Laurini, bek kanan yang baru saja dibajak secara gratis dari ACF Fiorentina dan Kastriot Dermaku, bek tengah yang baru saja didatangkan dari Cosenza Calcio dengan status free transfer. Selain itu ada juga nama Luigi Sepe (penjaga gawang) dan Alberto Grassi (gelandang tengah), keduanya didatangkan dari SSC Napoli masing-masing dengan status pembelian senilai 4 juta euro dan pinjaman senilai 6 juta euro (dengan hak penebusan di akhir musim). Adapun dua nama terakhir adalah pemain-pemain yang musim lalu telah lebih dulu bermain di Parma Calcio dengan status pemain pinjaman dari Azzuri.
Apabila kita melihat progres bursa transfer musim ini, kita tidak dapat untuk tidak menyetujui bahwa selalu ada hasil yang dibawa oleh Faggiano. Buktinya adalah beberapa pemain primavera telah berhasil didatangkan ke Collechhio, misalnya Adorante, bomber yang telah kembali ke “rumahnya” setelah lama merantau di Intermilan FC. Ini belum termasuk nama Walid Chedira, dan Mehdi Abied yang juga menunggu peresmian sebagai permain baru Parma Calcio. Dalam komposisi tim senior, saat ini Ducali tengah mengupayakan kedatangan Karamoh, seorang striker dari klub Nerazzurri. La Beneamata (julukan Inter) telah menyetujui kepindahan pesepakbola yang baru menginjak usia 21 tahun itu dengan nilai transfer 13-15 juta euro ditambah embel-embel hak pembelian kembali.
Selanjutnya, yang menjadi persoalan ialah siapakah yang akan menjadi striker utama Parma Calcio musim depan? Terdapat lima nama kandidat yang masuk dalam bursa transfer dalam beberapa minggu ini. Nama pertama adalah Mario BALOTELLI, meskipun Presiden Klub (Pizzarotti) telah menolak meneruskan negosiasi atasnya, nama Super Mario tetap menjadi impian dari sebagian fans Parma Calcio di Tanah Emilia Romagna, apalagi dengan statusnya yang bebas transfer alias gratis. Persoalan gaji tahunan sang pemain -yakni 4 juta euro- dan attitude yang dimilikinya menjadi alibi penolakan manajemen klub disamping memang Balo dinilai tidak akan cocok dengan skema bermain yang akan diterapkan oleh D’Aversa. Sang pelatih yang berhasil membawa Parma Calcio dua kali promosi secara berturut-turut itu lebih menyukai lini depannya dihuni oleh bomber yang juga dapat berperan besar di lini pertahanan. Sinyal ini menguatkan dugaan bahwa D’Aversa sesungguhnya masih berharap kepada Inglese. Nama kedua yang populer di bursa transfer adalah Roberto INGLESE. Pesepakbola SSC Napoli tersebut dibanderol 25 juta euro. Angka yang langsung menghabiskan budget belanja Parma Calcio musim ini (24,9 juta euro). Hingga tulisan ini dibuat, Direktur Olahraga Faggiano tetap berupaya untuk menghadirkan striker yang dalam beberapa kesempatan kerap kali dipuja-puji oleh D’Aversa sebagai striker yang komplit. Tampaknya Parma Calcio harus merogoh koceknya dalam-dalam jika memang ingin memiliki sang pemain, atau bahkan gialloblu harus mengorbankan beberapa pemainnya untuk mendapatkan pundi-pundi yang dapat dikonversi menjadi nilai transfer untuk Inglese. Opsi lainnya, Parma Calcio dapat meminjam sang pemain dengan klausul penebusan di akhir musim kompetisi demi meyakinkan klub Partenopei agar mau melepaskannya. Nama berikutnya, ada Marius STEPINSKI dari Chievo Verona FC, Musa BARROW dari Atalanta BSC, dan nama baru yang muncul belakangan yaitu Kevin Prince BOATENG dari US Sassuolo.
Mencermati pola transfer pemain Parma Calcio, klub yang baru bangkit dari kompetisi kasta rendah ini hanya akan mengandalkan pemain yang dapat menjamin maksimalnya performa tim. Sejumlah pemain yang direkrut merupakan pemain-pemain yang berpengalaman, jika tidak boleh disebut berumur. Modal yang minim dan status klub yang masih baru membuat klub ini sangat berhati-hati dalam melakukan gebrakan di bursa transfer. Selain berdampak positif, sikap kehati-hatian tersebut ternyata berbuah blunder yang cukup fatal. Beberapa nama yang dibidik seperti Pedro Obiang (West Ham United), Godfred Donsah (Bologna FC), Andrea Petagna (SPAL), serta yang paling fenomenal Camilo Ciano (Frosinone Calcio) dan Francesco Caputo (FC Empoli) semuanya menjauh karena langkah ketidakpastian yang diambil oleh Parma Calcio.
Kesan yang muncul adalah bahwa gialloblu hanya mengincar pemain-pemain tua, pemain yang bergaji murah, pemain yang tidak terpakai di klub asalnya (untuk dipinjam), dan pemain yang bebas transfer alias gratis. Pola transfer yang demikian jelas menimbulkan gambaran di mata fans bahwa klub ini sesungguhnya belum siap untuk berkompetisi di papan atas sebagaimana yang pernah mereka ukir di era 90-an. Ditambah lagi dengan target Salvezza yang kembali diusung oleh Parma Baru ala D’Aversa, suatu target yang harus kembali membuat sebagian besar Parmigiani di seluruh Indonesia mengelus dada.
Terlepas dari semua fenomena yang lahir dalam bursa transfer yang akan ditutup di bulan Agustus 2019, agaknya para fans di Indonesia -yang rata-rata bertipikal romantis- harus mencoba melakukan penyesuaian persepsi dengan Parmigiani di Italia yang memandang kondisi klub kesayangan mereka secara realistis. Mereka memandang bahwa setidaknya butuh waktu 3-5 tahun lagi untuk melihat klub kebanggaan Kota Parma itu berkibar di Eropa.


