MENELUSURI MINDSET ROBERTO D’AVERSA

Malapetaka Tujuhbelas Januari

Parma Calcio nyaris memetik poin penuh kala tampil di depan publiknya sendiri pada pertandingan yang digelar tanggal 17 Januari 2019. Unggul dua gol membuat para tifosi memiliki keyakinan bahwa kali ini Gialloblu (julukan Parma Calcio) dapat mengemas kemenangan selanjutnya guna memperlebar margin dengan penghuni zona merah di Liga Italia Serie-A musim kompetisi 2018-2019. Saat itu, Parma Calcio memang sangat membutuhkan poin untuk merangsek ke papan tengah klasemen, sekaligus mengamankan posisi dari kejaran klub-klub buncit di belakangnya.

Di tepi lapangan, berdiri tegap seorang pria berusia 43 tahun yang tengah tersenyum sumringah. Pupil matanya membesar dan siap menyambut kemenangan tim besutannya itu. Bermodalkan sepasang gol yang dibuat oleh Roberto Inglese di menit ke-11’ dan 53’, ia sangat yakin bahwa paceklik kemenangan yang dialami oleh Parma Calcio akan segera berakhir. Bobby English (julukan Inglese), nomor punggung 45, pria itu akan selalu ia ingat dalam sepanjang karir kepelatihannya. Seorang pesepakbola elegan yang telah memikat hatinya sejak awal musim kompetisi bergulir. Hingga pertengahan babak kedua, pelatih yang memutuskan pensiun dari urusan kocek-mengocek bola pada tanggal 1 Juli 2013 itu masih terlihat duduk tenang di bench klub tuan rumah. Setidaknya hingga menit ke-69’, satu menit sebelum mimpi buruk itu tiba di Tardini.

Pada menit ke-70’ dan 75’ secara berturut-turut Mattia Valoti dan Andrea Petagna berhasil menyarangkan gol ke gawang yang dijaga oleh Luigi Sepe. Sang pelatih kemudian bangkit dari benchnya sembari berteriak-teriak memberikan komando kepada timnya yang tengah kocar-kacir agar segera fokus dalam menit-menit pertandingan yang tersisa. Dua gol cepat yang dibuat oleh pasukan berseragam biru itu secara otomatis menimbulkan kekhawatiran bagi seluruh tifosi Gialloblu di dalam stadion. Aura ketegangan juga menyelimuti tifosi yang menyaksikan pertandingan tim kesayangannya melalui layar kaca. Puncak ketegangan tersebut akhirnya mencapai klimaksnya, sebuah gol lagi bersarang di gawang yang dijaga oleh kiper plontos, kali ini giliran Mohammed Fares yang membuat gol spektakuler dari luar kotak penalti tepat tiga menit sebelum laga dibubarkan. Tim tuan rumah akhirnya tertunduk lesu setelah peluit akhir dibunyikan. Kemenangan di tangan terbang melayang akibat kekalahan dari klub pendatang. Sebuah klub yang merupakan simboliasi hegemoni buruh pabrik di Negeri Pizza, SPAL.

Pria yang janggut dan jambangnya dicukur habis itu tertunduk lesu, ia melangkah gontai meninggalkan lapangan kebanggaannya. Siapapun pasti sulit menerima kenyataan jika tim besutannya kebobolan dua gol dalam waktu enam menit. Ia masih belum percaya bahwa timnya yang sudah unggul dua gol, harus terkena imbas dari comeback tim tamu. Seluruh mata para tifosi kini seolah tertuju padanya, beberapa berteriak meluapkan ketidakpuasannya dengan hasil akhir laga, beberapa tifosi bergumam di dalam hati: “Kapankah rentetan hasil jelek ini akan berakhir?”

Roberto D’Aversa, Inglese, dan D’Aversiano

“Mister D’Aversa”, demikian ia disapa, pelatih kepala Parma Calcio itu kini kembali menduduki kursi kepelatihannya hingga tahun 2022. Hampir tiga tahun, pelatih yang akrab dengan skema 4-3-3 D’Aversiano tersebut menjadi pelatih di Tanah Emilia. Sehari sebelum mengumumkan status perpanjangan kontrak Roberto D’Aversa, Presiden Klub Parma Calcio secara eksplisit memproklamirkan telah mundur dari perburuan Mario Balotelli. Pesepakbola yang dikenal dengan sebutan Super Mario itu baru saja melepaskan ikatan kontraknya dengan klub Olympique Marseille. Meskipun berstatus free transfer, Balo diprediksi tidak akan merapat ke klub Ducali, sebab sang pemain dianggap tidak akan cocok dengan skema bermain yang diusung oleh D’Aversa. Juru racik formasi Gialloblu itu menginginkan sosok striker yang mahir dalam menyerang sekaligus kokoh dalam bertahan. Dalam beberapa kesempatan, sang pelatih menyatakan bahwa ia lebih menyukai Roberto Inglese –yang berbanderol 25 juta euro–  ketimbang harus menerima Mario Balotelli –sekalipun secara gratis. Striker jangkung milik SSC Napoli tersebut dianggap sebagai prototipe yang sempurna untuk menjadi bomber di dalam skema 4-3-3 nya. Demi memuluskan keinginan D’Aversa, Direktur Olahraga Daniele Faggiano terus “menggoda” Laurentiis agar berkenan meminjamkan pemainnya untuk kembali mengenakan seragam Parma Calcio di musim depan.

Menilik kinerjanya di Serie-A, banyak pendukung Parma Calcio yang kurang menaruh simpati pada pelatih ini. Tampil gacor di awal musim, kemudian melempem di penghujung musim, jelas membuat banyak parmigiani (fans Parma Calcio) kecewa dengan performanya. Apalagi jika memperhatikan skema bermain yang diusung sang pelatih, formasi 4-3-3 yang seharusnya tampil garang-meradang dalam konsep menyerangnya, malah hanya mengandalkan serangan balik sporadis dalam kesempatan minor yang diperoleh. Sisanya, skema bermain surut-kecut dalam bertahan lebih banyak dipertontonkan kepada publik. Kendatipun demikian, sisi positif tetap ada dalam diri pelatih kelahiran tahun 1975 itu. Sisi yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan kacamata obyektif dan dengan pendekatan yang realistis.

Dia Pelatih Pro, Bukan Amatiran

Keengganannya memilih “si bengal” Balotelli sebagai ujung tombak dalam skuadnya adalah wujud profesionalismenya sebagai seorang pelatih. Bukan soal harga yang membuatnya memalingkan muka, bukan pula soal formasi, namun lebih utama lagi adalah soal prinsip vital dalam industri sepakbola modern. Dalam industri sepakbola modern, seorang pelatih akan menjadi profesional sejati ketika ia mampu menentukan pemain mana yang tepat untuk dijadikan andalan dalam timnya. D’Aversa lebih memilih menunggu Inglese yang beratitude bagus dan berpengalaman, ketimbang harus memaksakan diri menerima Balotelli, sekalipun ia berstatus pemain bintang yang dapat didatangkan secara gratis. Pemain yang beratitude baik namun lemah di bidang skill dapat dilatih dengan berbagai pendekatan dalam pelatihan. Sebaliknya, pesepakbola yang beratitude jelek, sekalipun skillnya bagus tetap saja akan menjadi bom waktu yang dapat memusingkan pelatih manapun di dunia ini.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan ialah: “Bagaimanakah formasi offensif Ducali di musim 2019/2020?” Secara skema, Inglese tetap jadi yang terfavorit di samping nama-nama lain yang ekslusif diberitakan dekat dengan Parma Calcio. Pemain bernomor punggung 45 tersebut sepertinya akan terus diupayakan Parma Calcio hingga bursa transfer musim panas resmi ditutup. Formasi D’Aversiano membutuhkan striker komplit yang tangguh dalam menyerang dan kokoh dalam membantu pertahanan. Sialnya, tidak banyak striker yang mampu memerankan peran ganda tersebut.

Apabila Inglese dapat kembali dihadirkan dalam skuad kuning-biru di musim depan, maka tridente Gervinho-Inglese-Karamoh akan menjadi andalan di lini depan klub pasukan lebah. Tridente tersebut dapat terwujud dengan catatan bahwa dua striker lainnya tetap merumput Ducali di musim depan –Gervinho batal hengkang ke Turki dan kesepakatan transfer Karamoh telah tercapai. Besar kemungkinan D’Aversa akan mengandalkan “dua anak panah hitamnya” dalam serangan balik cepat. Inglese? Jika “sang pangeran” benar-benar kembali, maka ia sekarang bisa menjadi seorang “Sultan”!?

Diterbitkan oleh bobbyhary77

Parmigiano dall'1998 Tifoso Parma Calcio 1913 - Indonesia

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai