LAGA PRAMUSIM 2019/2020: ASV PRAD vs PARMA CALCIO

Susunan Formasi

ASV Prad sebagai perwakilan tim lokal Prato Allo Stelvio menjadi lawan perdana pertandingan pramusim Parma Calcio. Laga yang digelar pada hari Sabtu, 13 Juli 2019 itu dipimpin oleh wasit perempuan: Arianna Bazzo dari Bolzano.

Dalam pertandingan ini, Gialloblu turun dengan perpaduan komposisi pemain. Pemain utama yang berpengalaman di Serie-A dipadupadankan dengan para pemain baru dan pemain-pemain yang berlaga di seri kompetisi kasta rendah. Pertandingan pertama ini menjadi sebuah kesempatan yang dimanfaatkan oleh pelatih untuk melakukan serangkaian ekseprimen terhadap skuadnya. Sebuah eksperimen yang bertujuan untuk menemukan format terbaik dari sejumlah pemain yang tersedia.

Di babak pertama Parma Calcio tampil dengan formasi 4-4-2. Luigi Sepe dipercaya menjadi penjaga gawang, sedangkan empat nama di lini pertahanan masing-masing adalah Laurini, Bruno Alves, Gagliolo, dan Iacoponi. Lini tengah diisi oleh Machin, Munari, Dezi, dan Grassi. Adapun untuk sektor depan, Roberto D’Aversa memasang duet Mattia Sprocati dan Yves Baraye.

Pergantian total susunan pemain dilakukan secara bertahap di babak kedua. Kali ini, Parma Calcio merombak skema bermainnya dari 4-4-2 menjadi 4-3-3. Colombi diplot di bawah mistar gawang Ducali, sedangkan sisi defensif dikelola oleh Barillà, Dermaku, Minelli, dan Gazzola. Lini tengah dipercayakan kepada Dezi, Scozzarellla, dan Machin, sedangkan tridente Baraye, Brunori, dan Kasa didaulat sebagai ujung tombak pendulang gol.

Analisis Pertandingan

Parma Calcio berhasil unggul jauh atas tim amatir Prato Allo Stelvio dengan selisih margin 13 gol. Skor akhir 1-14 menjadi pencapaian positif dalam laga pembuka pramusim klub Gialloblu. Delapan gol yang dicetak di babak kedua melengkapi pencapaian enam gol yang sebelumnya telah dilesakkan ke gawang ASV Prad di babak pertama. Sprocati yang menjadi targetman di sektor depan berhasil unjuk gigi dengan membukukan empat gol di menit ke 11’, 18’, 27’, dan 31’. Pada menit ke 22’ Gagliolo berhasil membukukan gol berikutnya melalui overlap. Pemain gaek Munari juga ikut memberikan andil kemenangan dengan golnya di menit ke 37’. Selanjutnya Yves Baraye yang membuat namanya tertulis dua kali di papan skor masing-masing pada menit ke 42’ dan 65’. Pemain debutan, Brunori juga tidak ketinggalan meunjukkan skill golnya di menit ke-84’. Jacopo Dezi menjadi bintang yang bersinar terang dengan mencetak poker di menit 31’, 58’, 69’, 76’, dan 81’. Tim tuan rumah hanya mampu membalas dengan gol tunggal yang dicetak Gander melalui titik putih pada menit ke 22’.

Klub besutan D’Aversa berhasil menciptakan hasil positif dalam pertandingan perdana mereka di Prato Allo Stelvio. Empatbelas gol yang dicetak dalam pertandingan tersebut merupakan hasil yang cukup baik mengingat pertandingan ujicoba ini merupakan hasil dari empat hari pemusatan latihan. Walaupun demikian, beberapa catatan setidaknya perlu diperhatikan oleh sang pelatih. Beberapa pemain berhasil menunjukkan kesungguhannya dalam bermain, sekalipun menghadapi klub sekelas ASV Prad. Kastriot Dermaku misalnya, semenjak ia masuk mengantikan Bruno Alves di awal babak kedua, nyaris tidak ada bola aktif yang dapat menjangkau sepertiga lini pertahanan Parma Calcio. Meski belum teruji dalam hal kecepatan, pemain jangkung cukup andal menjadi punggawa di lini belakang. Catatan lain yang menarik adalah kemampuan overlap yang dilakukan oleh Gazzolla. Bek yang masuk menggantikan Vincent Laurini itu bahkan sangat maksimal dalam umpan-umpan silangnya ketimbang Kasa yang cenderung boros melepas umpan-umpan mubazir. Terlepas dari gol ASV Prad yang dicetak dari titik penalti, secara keseluruhan Parma Calcio bermain menyerang dan berhasil mendominasi jalannya pertandingan.

Parma Calcio akan melangsungkan pertandingan selanjutnya melawan tim amatir Rapp. Val Venosta pada hari Rabu tanggal 17 Juli 2019 pada jam yang sama. Dalam laga kedua ini, beberapa pemain baru akan coba diturunkan oleh Roberto D’Aversa, termasuk Karamoh dan Kucka yang sempat menyaksikan pertandingan persahabatan yang berlangsung kemarin sore waktu Italia.

Berikut Rangkuman Hasil Akhir Pertandingan ASV Prad melawan Parma Calcio yang disadur dari halaman resmi klub http://www.parmacalcio1913.com.

Pencetak gol/Marcatori

11′ pt Sprocati, (0-1)

18′ pt Sprocati, (0-2)

22′ pt Gander [rigori/penalti], (1-2)

24′ pt Gagliolo, (1-3)

27′ st Sprocati, (1-4)

30′ pt Sprocati, (1-5)

31′ pt Dezi, (1-6)

37′ pt Munari, (1-7)

42′ pt Baraye, (1-8)

13′ st Dezi, (1-9)

20′ st Baraye, (1-10)

24′ st Dezi, (1-11)

31′ st Dezi, (1-12)

36′ st Dezi, (1-13)

39′ st Brunori. (1-14)

Susunan Formasi Parma Calcio:

Sepe (1′ st Colombi), B. Alves (cap.) (1′ st Dermaku), Gagliolo (1′ st Barillà), Dezi, Iacoponi (1′ st Minelli), Machin, Munari (1′ st Brunori), Baraye, Grassi (1′ st Scozzarella), Sprocati (1′ st Kasa), Laurini (1′ st Gazzola).
Pemain cadangan: Dini, Corvi, Stulac.
Pelatih: D’Aversa.

Susunan Formasi ASV Prad: 

El Hamoussi (1′ st Bacha A.), Brenner (1′ st Pichler A), Pichler (1′ st Maschler), Ziernheld (1′ st Perkmann), Bacha F (1′ st Alber), Grutsch (1′ st Hofer), Stecher (1′ st Grutsch), Thoni (1′ st Theiner), Steinhauser (1′ st Steiner), Gander (1′ st Terranova), Gritsch (1′ st Berger).
Pelatih: Paulmichl.

Wasit: Arianna Bazzo (dari Bolzano).

Asisten Wasit: Sianluca Testa dan Stefan Nikolic (keduanya dari Merano). 

Penonton: sekitar 300 orang.

Keterangan singkatan: pt. (primo tempo/babak pertama), st. (secondo tempo/babak kedua)

JELANG LAGA PRAMUSIM 2019/2020

Dawai Manakah yang Akan Dipetik D’Aversa?

Jelang pertandingan perdana ujicoba pra-musim melawan Prato Allo Stelvio, Parma Calcio dihadapkan dengan berlimpahnya stok pemain yang ada. Berlimpahnya stok pemain tersebut jelas akan berimplikasi pada kemungkinan terbentuknya beragam opsi susunan formasi. Hingga hari ini –13 Juli 2019 pukul 23.10 WIB– terdapat tiga puluh enam pemain yang terdaftar secara resmi di tim Parma Calcio. Dari ketiga puluh enam pemain tersebut ada dua belas pemain asing dengan rerataan usia secara keseluruhannya mencapai 28,1 tahun. Adapun jumlah pemain yang dibawa serta dalam pelatihan di Prato Allo Stelvio adalah sekitar 27-28 orang saja.

Roberto D’Aversa secara perlahan mulai merasakan hasil kerja keras Direktur Olahraga Daniele Faggiano. Pelatih asal Abruzzo itu dapat lebih leluasa meracik susunan skuad Parma Calcio sesuai dengan keinginannya dikarenakan berlimpahnya stok pemain dalam pelatihan. Atas dasar itulah, D’Aversa tidak memiliki alibi kegagalan dalam membangun “Parma yang Baru”, Parma Calcio yang memiliki kapasitas dan kapabilitas di atas lapangan hijau sebagaimana yang diimpikan oleh parmigiani di seluruh dunia.

Formasi 4-3-3 masih akan menjadi pilihan utama, disamping menggunakan opsi perubahan menjadi 4-4-2 dalam beberapa kondisi atau bahkan secara ekstrim menggunakan lima pemain bertahan dalam mendukung gaya permainan D’Aversiano yang menjadi pakem pelatih berusia 43 tahun itu.

Tinjauan Lini-perlini

LUIGI SEPE jelas akan menjadi pilihan utama di posisi palang pintu. Pemain yang baru ditebus dari SSC Napoli dengan banderol harga 4 juta euro itu akan didampingi oleh COLOMBI, seorang kiper muda yang didatangkan dari Carpi. Agaknya di posisi ini, Ducali telah merampungkan perburuannya di bursa transfer. Dalam laga persahabatan, sepertinya Sepe akan diandalkan, meskipun di babak kedua terbuka kemungkinan Colombi akan turun menggantikannya guna menambah menit bermain dalam laga persahabatan.

Beberapa pemain baru yang tiba di awal sesi bursa transfer musim panas memang memberikan angin segar bagi skuad D’Aversa. Di lini pertahanan sebelah kanan VINCENT LAURINI bersama pemain berpengalaman GAZZOLA. Kehadiran KASTRIOT DERMAKU di tengah lini defensif diharapkan dapat memaksimalkan kinerja pemain gaek kaya pengalaman, BRUNO ALVES. Selain Dermaku dan Alves, dua orang punggawa lawas yang tetap dapat diandalkan di pusat pertahanan: SIMONE IACOPONI dan RICARDO GAGLIOLO. Problematika yang dihadapi klub Ducali saat ini adalah sisi kidal pertahanan. Dua nama terakhir sebenarnya dapat dimainkan pada posisi kiri, namun hasilnya tidak akan sebagus pemain yang betul-betul memiliki spesialisasi di sisi kiri pertahanan seperti Dimarco maupun Massimo Gobbi. Kelihatannya Parma Calcio belum dapat menemukan subtitusi yang secara meyakinkan dapat menggantikan peran dua sayap kiri yang ada pada musim sebelumnya. Untuk memastikan kinerja bek kiri, manajemen terus menekan kepindahan GIUSEPPE PEZZELA dari Udinese Calcio.

Posisi centrocampista? Jelas tempat ini akan diperebutkan antara ALBERTO GRASSI dan HERNANI. Jenderal lapangan tengah akan diapit oleh dua gelandang tangguh JURAJ KUCKA dan ANTONINO BARILLA. Selain empat nama yang diprediksi akan mendapatkan tempat utama di tengah tadi, terbuka kesempatan bagi nama lain yang mungkin akan akan menjadi pertimbangan pelatih. Pemain tengah yang dimaksud adalah duo incaran FC Empoli: JACOPO DEZI dan LEO STULAC. Hingga tulisan ini diturunkan (13 Juli 2019), Parma Calcio masih mencoba membidik seorang pemain tengah lainnya sebaga alternatif, yaitu DEJAN KULUSEVSKI asal Atalanta BSC. Jika pemain ini didapat, maka Dezi dan/atau Stulac sudah dapat dilepas ke klub Toscani.

Sementara waktu, D’Aversa tetap akan mengandalkan GERVINHO, CERAVOLO, dan SILIGARDI. Mereka bertiga adalah para striker yang masih tersisa disamping MATTIA SPROCATI dan YVES BARAYE, sang pencetak gol perdana retret di Prato Allo Stelvio. Berkenaan dengan bursa transfer, klub asal Emilia Romagna masih sibuk membenahi lini serangnya hingga hari ini.  Satu nama yang hampir pasti merapat ke klub Parm Calcio adalah KARAMOH. Pemain yang masih mengurus kontraknya di Parma Calcio kelak dapat menjadi tandem bagi Gervinho dalam membangun serangan balik cepat. Di samping itu, nama ROBERTO INGLESE yang terus menjadi nama fenomenal dalam poros transfer Parma-Napoli tidak boleh dikecualikan. Selain Karamoh dan Inglese, kini ada juga dua nama tambahan: MUSA BARROW dan ANDREAS CORNELIUS dari Atalanta BSC. Pakar bursa transfer, Alfredo Pedulla menyebutkan bahwa persentase peluang kepindahan Cornelius telah mencapai angka 90%, sedangkan proses kepindahan Barrow agak sedikit rumit, mengingat kebutuhan Nerazurri terhadap kuantitas pemain dan kedalaman skuad mereka.

Parma Calcio akan bertanding melawan perwakilan dari Prato Allo Stelvio pada hari Sabtu, 13 Juli 2019 pada Pukul 17.30 Waktu Italia (pukul 23.30 WIB). Selanjutnya, klub ini secara berturut-turut akan menghadapi Rapp Val Venosta (17/7) juga pada pukul 17.30 WI dan Maia Alta Obermais (21/7) pada pukul 17,00 WI. Adapun duel yang ditunggu-tunggu akan tersaji pada hari Sabtu, 27 Juli 2019, pukul 18.00 WI, yakni prtandingan antara Parma Calcio melawan klub Trabzonspor (Turki).

Parma vs Prato Allo Stelvio

Jadwal pertandingan Parma Calcio melawan klub sepakbola lokal telah ditetapkan. Siapakah yang berpeluang tampil dalam ujicoba tersebut? Sebagaimana yang dinyatakan di atas bahwa Luigi Sepe diyakini akan menjadi penjaga gawang Parma Calcio dalam setiap laga yang Parma Calcio mainkan, namun dalam hal kasuistis maka kiper lapis kedua lebih dapat dikedepankan. Posisi bek utama semestinya ditempati oleh Vincent Laurini, Kastriot Dermaku, Bruno Alves, dan Gagliolo. Gazolla dan Iacoponi, akan mendapat giliran tampil di lini defensif Ducali. Untuk sesi duel melawan tim amatir, Minelli boleh dijadikan opsi dengan tujuan menambah jam terbang.

Posisi gelandang dihuni oleh trisula yang akan saling melengkapi satu sama lain: Kucka, Grassi, dan Barilla. Opsi lainnya adalah menurunkan Machin, Scozzzarella, Stulac, Kasa, ataupun memberi kesempatan kepada Dezi ataupun Munari. Kuco yang baru tiba dari liburannya kemungkinan tidak akan bermain, Dezi dan Scozzarella akan lebih berpeluang tampil.

Gervinho adalah salah satu dari tiga nama bomber yang menjadi favorit ditampilkan. Apabila pesepakbola Pantai Gading belum juga tiba di lokasi retret, maka tridente yang akan berperan sebagai juru gedor dalam skema 4-3-3 D’Aversa adalah Sprocati, Ceravolo, dan Siligardi. Opsi memainkan Yves Baraye dan Brunori menjadi suatu eksperimen perlu dilakukan, sebab kedua pemain tersebut tengah berada dalam kondisi terbaiknya.

Terlepas dari bentuk formasi maupun pilihan pemain yang akan ditampilkan, seluruh tifosi berharap bahwa tim besutan D’Aversa dapat tampil maksimal dan meraih hasil yang positif sebelum melakukan pertandingan ujicoba lainnya di Inggris.

MENELUSURI MINDSET ROBERTO D’AVERSA

Malapetaka Tujuhbelas Januari

Parma Calcio nyaris memetik poin penuh kala tampil di depan publiknya sendiri pada pertandingan yang digelar tanggal 17 Januari 2019. Unggul dua gol membuat para tifosi memiliki keyakinan bahwa kali ini Gialloblu (julukan Parma Calcio) dapat mengemas kemenangan selanjutnya guna memperlebar margin dengan penghuni zona merah di Liga Italia Serie-A musim kompetisi 2018-2019. Saat itu, Parma Calcio memang sangat membutuhkan poin untuk merangsek ke papan tengah klasemen, sekaligus mengamankan posisi dari kejaran klub-klub buncit di belakangnya.

Di tepi lapangan, berdiri tegap seorang pria berusia 43 tahun yang tengah tersenyum sumringah. Pupil matanya membesar dan siap menyambut kemenangan tim besutannya itu. Bermodalkan sepasang gol yang dibuat oleh Roberto Inglese di menit ke-11’ dan 53’, ia sangat yakin bahwa paceklik kemenangan yang dialami oleh Parma Calcio akan segera berakhir. Bobby English (julukan Inglese), nomor punggung 45, pria itu akan selalu ia ingat dalam sepanjang karir kepelatihannya. Seorang pesepakbola elegan yang telah memikat hatinya sejak awal musim kompetisi bergulir. Hingga pertengahan babak kedua, pelatih yang memutuskan pensiun dari urusan kocek-mengocek bola pada tanggal 1 Juli 2013 itu masih terlihat duduk tenang di bench klub tuan rumah. Setidaknya hingga menit ke-69’, satu menit sebelum mimpi buruk itu tiba di Tardini.

Pada menit ke-70’ dan 75’ secara berturut-turut Mattia Valoti dan Andrea Petagna berhasil menyarangkan gol ke gawang yang dijaga oleh Luigi Sepe. Sang pelatih kemudian bangkit dari benchnya sembari berteriak-teriak memberikan komando kepada timnya yang tengah kocar-kacir agar segera fokus dalam menit-menit pertandingan yang tersisa. Dua gol cepat yang dibuat oleh pasukan berseragam biru itu secara otomatis menimbulkan kekhawatiran bagi seluruh tifosi Gialloblu di dalam stadion. Aura ketegangan juga menyelimuti tifosi yang menyaksikan pertandingan tim kesayangannya melalui layar kaca. Puncak ketegangan tersebut akhirnya mencapai klimaksnya, sebuah gol lagi bersarang di gawang yang dijaga oleh kiper plontos, kali ini giliran Mohammed Fares yang membuat gol spektakuler dari luar kotak penalti tepat tiga menit sebelum laga dibubarkan. Tim tuan rumah akhirnya tertunduk lesu setelah peluit akhir dibunyikan. Kemenangan di tangan terbang melayang akibat kekalahan dari klub pendatang. Sebuah klub yang merupakan simboliasi hegemoni buruh pabrik di Negeri Pizza, SPAL.

Pria yang janggut dan jambangnya dicukur habis itu tertunduk lesu, ia melangkah gontai meninggalkan lapangan kebanggaannya. Siapapun pasti sulit menerima kenyataan jika tim besutannya kebobolan dua gol dalam waktu enam menit. Ia masih belum percaya bahwa timnya yang sudah unggul dua gol, harus terkena imbas dari comeback tim tamu. Seluruh mata para tifosi kini seolah tertuju padanya, beberapa berteriak meluapkan ketidakpuasannya dengan hasil akhir laga, beberapa tifosi bergumam di dalam hati: “Kapankah rentetan hasil jelek ini akan berakhir?”

Roberto D’Aversa, Inglese, dan D’Aversiano

“Mister D’Aversa”, demikian ia disapa, pelatih kepala Parma Calcio itu kini kembali menduduki kursi kepelatihannya hingga tahun 2022. Hampir tiga tahun, pelatih yang akrab dengan skema 4-3-3 D’Aversiano tersebut menjadi pelatih di Tanah Emilia. Sehari sebelum mengumumkan status perpanjangan kontrak Roberto D’Aversa, Presiden Klub Parma Calcio secara eksplisit memproklamirkan telah mundur dari perburuan Mario Balotelli. Pesepakbola yang dikenal dengan sebutan Super Mario itu baru saja melepaskan ikatan kontraknya dengan klub Olympique Marseille. Meskipun berstatus free transfer, Balo diprediksi tidak akan merapat ke klub Ducali, sebab sang pemain dianggap tidak akan cocok dengan skema bermain yang diusung oleh D’Aversa. Juru racik formasi Gialloblu itu menginginkan sosok striker yang mahir dalam menyerang sekaligus kokoh dalam bertahan. Dalam beberapa kesempatan, sang pelatih menyatakan bahwa ia lebih menyukai Roberto Inglese –yang berbanderol 25 juta euro–  ketimbang harus menerima Mario Balotelli –sekalipun secara gratis. Striker jangkung milik SSC Napoli tersebut dianggap sebagai prototipe yang sempurna untuk menjadi bomber di dalam skema 4-3-3 nya. Demi memuluskan keinginan D’Aversa, Direktur Olahraga Daniele Faggiano terus “menggoda” Laurentiis agar berkenan meminjamkan pemainnya untuk kembali mengenakan seragam Parma Calcio di musim depan.

Menilik kinerjanya di Serie-A, banyak pendukung Parma Calcio yang kurang menaruh simpati pada pelatih ini. Tampil gacor di awal musim, kemudian melempem di penghujung musim, jelas membuat banyak parmigiani (fans Parma Calcio) kecewa dengan performanya. Apalagi jika memperhatikan skema bermain yang diusung sang pelatih, formasi 4-3-3 yang seharusnya tampil garang-meradang dalam konsep menyerangnya, malah hanya mengandalkan serangan balik sporadis dalam kesempatan minor yang diperoleh. Sisanya, skema bermain surut-kecut dalam bertahan lebih banyak dipertontonkan kepada publik. Kendatipun demikian, sisi positif tetap ada dalam diri pelatih kelahiran tahun 1975 itu. Sisi yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan kacamata obyektif dan dengan pendekatan yang realistis.

Dia Pelatih Pro, Bukan Amatiran

Keengganannya memilih “si bengal” Balotelli sebagai ujung tombak dalam skuadnya adalah wujud profesionalismenya sebagai seorang pelatih. Bukan soal harga yang membuatnya memalingkan muka, bukan pula soal formasi, namun lebih utama lagi adalah soal prinsip vital dalam industri sepakbola modern. Dalam industri sepakbola modern, seorang pelatih akan menjadi profesional sejati ketika ia mampu menentukan pemain mana yang tepat untuk dijadikan andalan dalam timnya. D’Aversa lebih memilih menunggu Inglese yang beratitude bagus dan berpengalaman, ketimbang harus memaksakan diri menerima Balotelli, sekalipun ia berstatus pemain bintang yang dapat didatangkan secara gratis. Pemain yang beratitude baik namun lemah di bidang skill dapat dilatih dengan berbagai pendekatan dalam pelatihan. Sebaliknya, pesepakbola yang beratitude jelek, sekalipun skillnya bagus tetap saja akan menjadi bom waktu yang dapat memusingkan pelatih manapun di dunia ini.

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan ialah: “Bagaimanakah formasi offensif Ducali di musim 2019/2020?” Secara skema, Inglese tetap jadi yang terfavorit di samping nama-nama lain yang ekslusif diberitakan dekat dengan Parma Calcio. Pemain bernomor punggung 45 tersebut sepertinya akan terus diupayakan Parma Calcio hingga bursa transfer musim panas resmi ditutup. Formasi D’Aversiano membutuhkan striker komplit yang tangguh dalam menyerang dan kokoh dalam membantu pertahanan. Sialnya, tidak banyak striker yang mampu memerankan peran ganda tersebut.

Apabila Inglese dapat kembali dihadirkan dalam skuad kuning-biru di musim depan, maka tridente Gervinho-Inglese-Karamoh akan menjadi andalan di lini depan klub pasukan lebah. Tridente tersebut dapat terwujud dengan catatan bahwa dua striker lainnya tetap merumput Ducali di musim depan –Gervinho batal hengkang ke Turki dan kesepakatan transfer Karamoh telah tercapai. Besar kemungkinan D’Aversa akan mengandalkan “dua anak panah hitamnya” dalam serangan balik cepat. Inglese? Jika “sang pangeran” benar-benar kembali, maka ia sekarang bisa menjadi seorang “Sultan”!?

PRATO ALLO STELVIO: SAKSI KEBANGKITAN KEMBALI

Tempat itu Bernama “Prato Allo Stelvio”

Awal musim akan segera dimulai, saat ini pertengahan bulan Juli 2019, memasuki hari keempat retret yang diagendakan oleh manajemen klub Parma Calcio. Beberapa nama telah ditentukan harus berangkat sore hari, setelah sang pelatih Roberto D’Aversa melakukan konferensi pers di depan para awak media. Pada konferensi persnya, ia menyatakan bahwa segenap tim harus membuka lembaran baru dengan antusiasme. Ia menyatakan bahwa apa yang dicapai pada awal musim lalu bukanlah sebuah kebetulan, bahwa retret Prato Allo Stelvio yang telah dilakukan pada musim lalu, memberikan dampak besar bagi kesiapan timnya dalam menghadapi ketatnya kompetisi.

Prato Allo Stelvio, tempat ini masih seperti musim lalu, lapangan yang hijau, suasana yang asri, angin bertiup lembut, dan matahari pun bersinar sejuk. Selamat datang di Prato Allo Stelvio, basecamp pelatihan awal untuk menyongsong Liga Italia Serie-A musim kompetisi 2019/2020. Tempat ini terletak di perbatasan Italia-Austria, bentang alam yang indah dan asri sangat mendukung kondisi fisik pemain, terlebih lagi kondisi psikisnya. Karl Bernhard adalah nama Walikota yang saat ini masih menjabat. Pria tua yang sama sebagaimana yang ditemui pada retret musim lalu. Ia menyambut gembira ketika Parma Calcio kembali memilih Prato Allo Stelvio sebagai lokasi pemusatan latihan pra musim. Karl menyempatkan diri untuk hadir di tengah-tengah tim yang tengah berlatih, ditemani oleh pelatih D’Aversa, serta aktor utama dalam bursa transfer: Direktur Olahraga Danielle Faggiano beserta Presiden Pizzarotti. Mereka semua hadir untuk memberikan dukungan, sekaligus memastikan agar segala sesuatunya berjalan dengan lancar.

Dari antara nama-nama pemain yang hadir dalam retret, terdapat beberapa wajah baru seperti Vincent Laurini (ACF Fiorentina), Kastriot Dermaku (Cosenza Calcio), Brunori Sandri, Minelli, serta dua wajah lama Luigi Sepe (SSC Napoli) dan Alberto Grassi (SSC Napoli). Berikut nama-nama pemain yang dipanggil untuk mengikuti retret di Prato Allo Stelvio: Di posisi penjaga gawang, ada empat nama yaitu: Corvi, Dini, Frattali, Sepe. Sayangnya Dini harus berhenti di hari ketiga pelatihan dikarenakan harus mengurus peminjaman ke Serie-B. Pada posisi pemain belakang (bek), ada nama Bruno Alves, Dermaku, Gagliolo, Gazzola, Iacoponi, Laurini, dan Minelli. Di posisi Gelandang ada nama Barilla, Dezi, Grassi, Kasa, Machin, Munari, Scozzarella, dan Stulac. Adapun Kucka, ia baru akan ikut mulai tanggal 13 Juli 2019 setelah ia menyelesaikan masa liburannya. Adapun di posisi striker ada enam nama yaitu: Baraye, Brunori, Ceravolo, Gervinho, Siligardi, Sprocati.

Selain dari nama-nama yang diikutsertakan, ada pula mereka yang tidak dibawa serta ke Prato Allo Stelvio, mereka masing-masing adalah: Luca Rigoni yang statusnya dibekukan untuk perpanjangan kontrak, Abdou Diakhate yang tengah mengurus kontrak baru di klub Serie-B, Nicolas Schiappacasse yang tengah beristirahat pasca berlaga di Piala Dunia U-20, Manuel Scavone yang tengah mengurus kepindahan ke SSC Bari, juga Adorante pemain baru yang akan bergabung dengan rekan-rekannya pada bulan Agustus 2019. Nama-nama lain seperti Lorenzo Simonetti, Lorenzo Saporetti, Antonio Vacca dan kawan-kawannya masih terlibat urusan dengan klub peminjamnya di kasta kompetisi yang mereka mainkan.

Para pemain yang ditempa di Prato Allo Stelvio akan diujicobakan dalam laga persahabatan pramusim untuk mengukur kesiapan mereka dari segi teknis dan taktis, serta fisik dan mental dalam mengarungi musim kompetisi baru yang sudah dekat. Berikut ini beberapa jadwal laga pramusim yang akan dijalani oleh Parma Calcio:

  • Parma Calcio vs ASV Prad (Sabtu, 13 Juli 2019, 17.30 WI);
  • Parma Calcio vs Scelta Bassa Val Venosta (Rabu, 17 Juli 2019, 17.30 WI);
  • Parma Calcio vs FC Obermais (Minggu, 20 Juli 2019, 17.00 WI);
  • Parma Calcio vs Trabszonspor (Minggu 27 Juli 2019, 17.00 Waktu Austria  di Hofmaninger Stadium, Oberrosterreich, Austria);
  • Parma Calcio vs Burnley FC (Sabtu, 3 Agustus 2019, 15.00 Waktu Britania Raya)

Gejolak Bursa Transfer Musim Panas

Beberapa hasil telah dipetik oleh Parma Calcio dalam bursa transfer di musim panas ini. Empat pemain telah berhasil didatangkan ke dalam skuad D’Aversa, mereka adalah Vincent LAURINI bek kanan dari ACF Fiorentina, Kastriot DERMAKU bek tengah dari Cosenza Calcio, Luigi SEPE penjaga gawang dan Alberto GRASSI gelandang tengah, kedua nama terakhir didatangkan dari SSC Napoli. Kabar terakhir, KARAMOH penyerang luar asal Intermilan FC dan HERNANI gelandang asal Zenith St. Petersburg telah bergabung dengan klub gialloblu, kendatipun belum menerima label resmi.

Laurini dan Dermaku didatangkan dengan status bebas transfer, sedangkan Sepe dihadirkan berkat penebusan senilai 4 juta euro. Adapun Grassi tiba di Parma Calcio (sekali lagi) dengan status pinjaman sebesar 6 juta euro. Namun demikian, kali ini pria yang dibekap cidera panjang di awal musim lalu itu mengikat kontrak dengan klausul baru, yakni penebusan di akhir musim. Karamoh? Pesepakbola yang baru berusia 21 tahun itu disepakati bernilai 13 juta euro ditambah beberapa juta sebagai kompensasi plus hak 50% dari harga jual sang pemain untuk Nerazurri di masa depan. Nama terakhir, Hernani, ia dibajak dari Zenith dengan nilai transfer 1 juta dengan klausul pinjaman berbunga ditambah dengan kewajiban penebusan jika Parma Calcio meraih salvezza di akhir musim.

Berdasarkan klausul-kalusul yang dibuat, di luar free transfer (parametri zero), lebih banyak klausul yang kurang memberikan benefit lebih kepada Parma Calcio utamanya untuk pemain pinjaman dan pembelian bersyarat. Sebagai klub yang mencoba bangkit dari keterpurukan tiga tahun silam, Ducali tidak punya pilihan lain dalam menghadapi persoalan ini. Banyak hal yang harus dipertimbangkan manajemen dan petinggi klub ini sebelum mengambil keputusan terhadap sesuatu hal, baik membeli pemain, meminjamnya, meminjamkannya, ataupun menjualnya. Terkadang kita sebagai fans, harus obyektif menilai segala tindak-tanduk yang dilakukan oleh perusahaan.

Prato Allo Stelvio akan menjadi ramai dengan hiruk pikuk teriakan pelatih dan pemain, ia akan menjadi saksi kebangkitan kembali klub yang pernah bertahta sebagai Il Sette Magnifico dalam kompetisi kasta tertinggi Liga Italia Serie-A. Prato Allo Stelvio adalah tempat yang nyaman bagi pemain. Tak percaya? Tanyalah kepada Gagliolo yang sempat merasakan segarnya aliran sungai di sana. Selamat datang di Prato Allo Stelvio!

Parma Calcio: Tifosi Romantisme vs Tifosi Realistis

Parma Calcio 1913 akhirnya berhasil meraih salvezza di pekan ke-37 Liga Italia Serie-A musim 2018/2019, dua pekan sebelum kompetisi musiman selesai. Salvezza di musim 2018-2019 adalah pencapaian lanjutan yang direngkuh oleh klub yang berjuluk gialloblu setelah mereka berhasil meraih promosi ke Serie-C dan Serie-B dalam dua musim secara berturut-turut. Sempat tampil apik di putaran pertama dengan mengantongi kemenangan atas tim penghuni kasta tertinggi seperti Torino FC, Genoa CFC, dan Intermilan FC; klub besutan pelatih Roberto D’Aversa mengalami inkonsistensi di paruh putaran kedua karena cidera pemain dan kondisi fisik pemain-pemain inti mereka. Penurunan performa tim dengan segala kompeksifitasnya tersebut telah menjadi sebuah pembelajaran yang patut dihargai oleh tim anak bawang di kancah liga negara pizza tersebut. Untuk musim selanjutnya, Il Ducali (julukan lain dari klub ini) berupaya untuk memperbaiki performa, baik dalam segi kualitas teamwork maupun kuantitas pemain yang lebih memiliki kedalaman dalam segi skill dan teknik.

Pelatihan pra-musim (retret) 2019/2020 telah dimulai sejak hari Senin, tanggal 8 Juli 2019 di Prato allo Stelvio, sebuah kawasan yang tenang di perbatasan Italia-Austria. Kendatipun mendapatkan tantangan kondisi alam Prato allo Stelvio yang akhir-akhir ini kurang bersahabat, Parma Calcio tetap menerjunkan para pemain dan staf kepelatihan ke sana sesuai jadwal yang ditentukan. Dari beberapa pemain yang baru, terlihat ada nama Vincent Laurini, bek kanan yang baru saja dibajak secara gratis dari ACF Fiorentina dan Kastriot Dermaku, bek tengah yang baru saja didatangkan dari Cosenza Calcio dengan status free transfer. Selain itu ada juga nama Luigi Sepe (penjaga gawang) dan Alberto Grassi (gelandang tengah), keduanya didatangkan dari SSC Napoli masing-masing dengan status pembelian senilai 4 juta euro dan pinjaman senilai 6 juta euro (dengan hak penebusan di akhir musim). Adapun dua nama terakhir adalah pemain-pemain yang musim lalu telah lebih dulu bermain di Parma Calcio dengan status pemain pinjaman dari Azzuri.

Apabila kita melihat progres bursa transfer musim ini, kita tidak dapat untuk tidak menyetujui bahwa selalu ada hasil yang dibawa oleh Faggiano. Buktinya adalah beberapa pemain primavera telah berhasil didatangkan ke Collechhio, misalnya Adorante, bomber yang telah kembali ke “rumahnya” setelah lama merantau di Intermilan FC. Ini belum termasuk nama Walid Chedira, dan Mehdi Abied yang juga menunggu peresmian sebagai permain baru Parma Calcio. Dalam komposisi tim senior, saat ini Ducali tengah mengupayakan kedatangan Karamoh, seorang striker dari klub Nerazzurri. La Beneamata (julukan Inter) telah menyetujui kepindahan pesepakbola yang baru menginjak usia 21 tahun itu dengan nilai transfer 13-15 juta euro ditambah embel-embel hak pembelian kembali. 

Selanjutnya, yang menjadi persoalan ialah siapakah yang akan menjadi striker utama Parma Calcio musim depan? Terdapat lima nama kandidat yang masuk dalam bursa transfer dalam beberapa minggu ini. Nama pertama adalah Mario BALOTELLI, meskipun Presiden Klub (Pizzarotti) telah menolak meneruskan negosiasi atasnya, nama Super Mario tetap menjadi impian dari sebagian fans Parma Calcio di Tanah Emilia Romagna, apalagi dengan statusnya yang bebas transfer alias gratis. Persoalan gaji tahunan sang pemain -yakni 4 juta euro- dan attitude yang dimilikinya menjadi alibi penolakan manajemen klub disamping memang Balo dinilai tidak akan cocok dengan skema bermain yang akan diterapkan oleh D’Aversa. Sang pelatih yang berhasil membawa Parma Calcio dua kali promosi secara berturut-turut itu lebih menyukai lini depannya dihuni oleh bomber yang juga dapat berperan besar di lini pertahanan. Sinyal ini menguatkan dugaan bahwa D’Aversa sesungguhnya masih berharap kepada Inglese. Nama kedua yang populer di bursa transfer adalah Roberto INGLESE. Pesepakbola SSC Napoli tersebut dibanderol 25 juta euro. Angka yang langsung menghabiskan budget belanja Parma Calcio musim ini (24,9 juta euro). Hingga tulisan ini dibuat, Direktur Olahraga Faggiano tetap berupaya untuk menghadirkan striker yang dalam beberapa kesempatan kerap kali dipuja-puji oleh D’Aversa sebagai striker yang komplit. Tampaknya Parma Calcio harus merogoh koceknya dalam-dalam jika memang ingin memiliki sang pemain, atau bahkan gialloblu harus mengorbankan beberapa pemainnya untuk mendapatkan pundi-pundi yang dapat dikonversi menjadi nilai transfer untuk Inglese. Opsi lainnya, Parma Calcio dapat meminjam sang pemain dengan klausul penebusan di akhir musim kompetisi demi meyakinkan klub Partenopei agar mau melepaskannya. Nama berikutnya, ada Marius STEPINSKI dari Chievo Verona FC, Musa BARROW dari Atalanta BSC, dan nama baru yang muncul belakangan yaitu Kevin Prince BOATENG dari US Sassuolo.

Mencermati pola transfer pemain Parma Calcio, klub yang baru bangkit dari kompetisi kasta rendah ini hanya akan mengandalkan pemain yang dapat menjamin maksimalnya performa tim. Sejumlah pemain yang direkrut merupakan pemain-pemain yang berpengalaman, jika tidak boleh disebut berumur. Modal yang minim dan status klub yang masih baru membuat klub ini sangat berhati-hati dalam melakukan gebrakan di bursa transfer. Selain berdampak positif, sikap kehati-hatian tersebut ternyata berbuah blunder yang cukup fatal. Beberapa nama yang dibidik seperti Pedro Obiang (West Ham United), Godfred Donsah (Bologna FC), Andrea Petagna (SPAL), serta yang paling fenomenal Camilo Ciano (Frosinone Calcio) dan Francesco Caputo (FC Empoli) semuanya menjauh karena langkah ketidakpastian yang diambil oleh Parma Calcio.

Kesan yang muncul adalah bahwa gialloblu hanya mengincar pemain-pemain tua, pemain yang bergaji murah, pemain yang tidak terpakai di klub asalnya (untuk dipinjam), dan pemain yang bebas transfer alias gratis. Pola transfer yang demikian jelas menimbulkan gambaran di mata fans bahwa klub ini sesungguhnya belum siap untuk berkompetisi di papan atas sebagaimana yang pernah mereka ukir di era 90-an. Ditambah lagi dengan target Salvezza yang kembali diusung oleh Parma Baru ala D’Aversa, suatu target yang harus kembali membuat sebagian besar Parmigiani di seluruh Indonesia mengelus dada.

Terlepas dari semua fenomena yang lahir dalam bursa transfer yang akan ditutup di bulan Agustus 2019, agaknya para fans di Indonesia -yang rata-rata bertipikal romantis- harus mencoba melakukan penyesuaian persepsi dengan Parmigiani di Italia yang memandang kondisi klub kesayangan mereka secara realistis. Mereka memandang bahwa setidaknya butuh waktu 3-5 tahun lagi untuk melihat klub kebanggaan Kota Parma itu berkibar di Eropa.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai